[net's scratch] Memories

[07.00 AM].
Aku membuka mata kananku, yang langsung mengerjap2 karna langsung dihadang sinar matahari pagi yang entah mengapa hari ini mendadak terik. Beruntunglah kau, mata kiri. Aku memaksa bangun dan duduk di tepi tempat tidur, berniat melempari jam weker yang menabur genderang perang mengganggu tidurku. Tanganku pun reflek mengambil benda terdekat dari jangkauan, Handphone. Dan terdiam melihat layarnya.

“It’s a wonderful morning. Have a great day today, hon. Kiss.”

Aku menunduk, dan termenung…

“Ra… Didn’t you say you shouldn’t be late today?”  Yak, it’s definitely my wake up call. Kuletakkan handphone ku begitu saja di atas kasur dan bergegas mandi..

 

[10.00 AM].
“Hey, let’s have something to eat.” ajak teman kantorku.
“Ini masih jam 10.. makan apa jam segini?”
“Oh, come on. Manasin sisa catering meeting tadi ga dosa.” ajak temanku lagi, kali ini dibarengi menarik aku bangun dari kursi kantorku yang empuk dan membuat malas. Aku pun mengikutinya. Bukan untuk makan, selera makanku tidak sekalap temanku yang satu ini. Sekedar membuat kopi saja.
Aku berjalan pelan ke arah lemari pantry, mengambil sebuah cangkir dan mulai membuat kopi.
“Ra.. ini memalukan. tapi aku butuh bantuanmu.. Bisa bantu aku menyalakan benda ini?” kata temanku.
Aku menoleh ke arahnya.

“Bisa bantu aku menyalakan benda ini?” katanya.. dia memasang raut wajah sangat memelas dan mata lebar untuk membujukku.
“.. What you really can do, seriously?” kataku setengah ketus. Tidak bermaksud galak, hanya menggodanya saja. Aku pun tetap beranjak dari kursiku dan membantunya.
“Aku bisa berdiri disini dan dengan serius memperhatikan kamu menyalakan benda itu.” aku berbalik ke arahnya dan memberinya tatapan galak, “..dan, ” tangannya meraih bahuku dan memutar badanku kembali, “menjagamu tetap hangat.” dia membuka jaket yg dia pakai dan menggantungkannya di bahuku. Aku terdiam. Dan berusaha menjaga agar dia tak menyadari senyumku.. senyum yang entah mengapa tak bisa aku tahan. Entah karna keberadaannya yang berdiri sangat dekat dibelakangku, atau sentuhan hangat tangannya yang dia letakkan di bahuku. Rasanya waktu dan ruang berhenti sejenak, menangkap gambaran kami berdua disana.
“.. dan bisakah sekalian kamu membantuku membuat mi instan di situ?” katanya jahil.
Sikuku melayang ke arah perutnya. Dan kami pun tertawa.

“Ra..? hallo?”.
“Ah.. ya. tentu saja.”

 

[22.00 PM]
“Ra.. gapapa sendirian? mau aku tungguin sampe jemputanmu datang?”.
Aku menggeleng, “gapapa. kamu duluan aja.”. Aku menolak ajakan temanku. bukan bermaksud kasar dan tidak sopan, hanya tak enak membuatnya menunggu. Beban pekerjaan yang sedang over terpaksa membuat kami lembur malam ini.
Aku pun akhirnya memutuskan duduk di sebuah kursi kecil di depan pintu gedung. mengawasi satu dua mobil yang masih terparkir di sana. Dan lampu2 jalan yang berkelap kelip dari kejauhan. Angin berhembus sangat lembut menyentuh pipiku. Membuatku mendongakkan kepala untuk menghirup udara malam yang entah mengapa sangat kusuka. Sepinya, dan dinginnya.. membuat damai. Kutatap langit malam yang hari ini cerah. Bulan bersinar indah. Bintang – bintang bertebaran menemaninya..

“Tebak Siapa…” ucapnya jahil sambil menutup mataku dengan tangannya.
Aku tersenyum sejenak dan meraih tangannya yang menutup mataku. “Siapa lagi yang bisa sechildish ini. Malu bang sama umur.” kataku sambil menurunkan tangannya. Dan kami pun tertawa lepas, dan tanpa sadar tangan kami masih saling menggenggam. Dia melepaskan tangannya dan duduk disebelahku.
“Coba lihat.. bagus ya. banyak bintang hari ini.” Katanya padaku.
Aku melihat langit. dan mulai mencari bintang yang dia bicarakan.
“Tak ada bintang hari ini. Ramalan cuaca bilang malam ini akan hujan.” kataku ringan. Aku bahkan belum benar2 mencari.
“Ada.. see? sini.” Dia menaruh tangannya di bahuku dan menarikku mendekat. Napasku tertahan sejenak.
“See.. ada.” Benar. ada bintang. padahal langit benar2 terlihat mendung dan seperti akan hujan.
“even in your darkest and stormy moments, i will be your star. like tonight.” Aku terdiam. Kami terdiam. duduk menikmati langit malam.

.. tanpa sadar air mataku mengalir..

“Ra. maaf telaat..” seorang pria setengah berlari dari arah tempat parkir menuju arahku. aku tersadar dari lamunanku dan tersenyum ke arahnya. “Tak apa.”
“Ready to go honey?” katanya seraya memelukku sekilas. “Hey are you okay? mata kamu basah.” Ucapnya sambil menatapku. Aku tersenyum, “I’m okay. Just, ” aku melayangkan pandanganku ke sekitar,”.. memories.”
Dia tersenyum lembut, mengelus pipiku. “Ok. ayo pulang princess.” Aku tersenyum lebar dan mengangguk.
Kami berjalan berangkulan.. dan Angin malam berhembus lagi.

 
 


another fiction story, dari devil di kepala gw. enjoy.. ;)

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s